Selamat Pagi, Malam – Director’s Statement

Sebagai warga Jakarta, kita semua pasti memiliki pengalaman-pengalaman unik tersendiri. Misalnya, terjebak di dalam kemacetan selama 3 jam. Banjir yang melumpuhkan seluruh kota. Pergi ke acara-acara sosialita dimana semua orang berinteraksi bukan dengan satu sama lain tetapi dengan smartphone masing-masing. Terobsesi dengan trend terbaru mulai dari yoghurt, rainbow cake, sampai sandal Crocs. Welcome to Jakarta.

Diantara kerusuhan kota Jakarta, masih ada hal-hal yang indah yang bisa kita temukan. Misalnya, makanannya yang sangat beragam. Orang-orangnya yang sebenarnya sangat hangat. Dan tentu saja, Jakarta saat malam hari. Menurut saya, malam hari di Jakarta merupakan momen dimana kota ini akhirnya bisa istirahat dan menghela nafasnya.

Malam hari di Jakarta terasa sangat damai. Kita bisa berjalan kaki karena tidak ada pedagang atau motor yang lewat di atas trotoar. Kita bisa mencari makan di pinggir jalan, atau pergi ke pasar kue saat dini hari. Di malam hari, warga Jakarta juga perlahan melepaskan topeng-topeng yang mereka kenakan sepanjang hari. Topeng-topeng yang menyembunyikan identitas mereka yang sebenarnya. Aneh memang, tetapi di malam hari warga Jakarta menjadi lebih jujur dengan diri mereka masing-masing.

Film “Selamat Pagi, Malam” membahas mengenai dualitas ini. Dari judulnya saja sudah jelas. Pagi dan Malam. Warga Jakarta, seperti kotanya sendiri, sepertinya sedang mengalami krisis identitas. It’s all in the surface. Semuanya tampak luar saja, tetapi bagaimana dengan jiwa mereka sendiri? They seem to be losing their souls.

Film ini bukan hanya menjadi love letter terhadap Jakarta, tetapi juga terhadap semua kota besar yang mengalami peperangan identitas. Film ini dibuat untuk manusia-manusia urban yang mengalami kesepian ditengah-tengah keramaian. Semoga kita semua bisa mengarungi kota yang membingungkan ini. Dan semoga kota yang sudah terus-terusan di-abused ini bisa tetap selamat, dan berdiri tegap bagaikan seorang penyanyi lounge cantik yang tidak henti-hentinya bersenandung.

——

We’ve all experienced it. The three-hour drive thanks to a gridlock traffic. Travelling in rescue boats thanks to the yearly flood. Paying off a traffic officer instead of getting a ticket. Attending fabulous parties where people interact mostly with their own cell phones. Obsessing over the latest trend, whether it’s donuts, frozen yoghurt, convenient stores, or croc sandals. Yes. This is Jakarta.

At the same time the city can be really exciting. There’s the food, the booming art world, the warmth of the people. And … there’s the nighttime. I’ve talked with many Jakartans who agree that the city is at its most beautiful at night. It is when the city is allowed to breathe, to take a break, before the madness starts all over again.

Nighttime in Jakarta produces some of the most magical, transitional little moments. It’s when we can stroll around peacefully. It is when we go to get drinks, party, even hooking up. It is when we can enjoy good street food, even go to a cake market in the wee hours of morning. It is when we can find temporary sanctuary so that the next day we can regain ourselves again.
Most importantly, at night people seem to let down their guard. They take off their masks and slowly the truth reveals itself. When they become themselves again, transformation seems to take over. Which is what this film is all about. Transformation and letting go.

This film is a tribute not just to Jakarta but to any big cities where culture clashes and identities are meshed. It is for urban souls who have experienced loneliness, melancholia and uncertainty. Hopefully we can survive the city without losing much of our soul. And hopefully the city can keep on thriving, keep on living with poise, maturity, and grace.

Lucky Kuswandi – Writer, Editor, & Director